Kamis, 05 April 2012

Tidur Damai



 “ hati senang walaupun tak punya uang…”
Begitu bunyi syair sebuah lagu lawas,  sepertinya syair lagu ini benar adanya, di hadapan gue saat ini ada sekitar 5 orang sedang tidur bergeletakan sehabis sholat zuhur berjama’ah di serambi sebuah mesjid yang teduh di bilangan Jakarta.
Orang-orang bilang sepanas apapun Jakarta, tetep aja mesjid selalu memberikan kesejukan dan keteduhan. Boleh jadi orang2 yg bergeletakan di depan gue ini hanya memiliki sedikit uang untuk hari itu saja, tapi Subhanallah.. raut wajah mereka begitu damai n bersyukur dengan keadaan mereka, meski hanya tidur di emperan mesjid yang lantainya memang agak sejuk, jauh berbeda dengan suhu jalanan yg hanya berjarak 2 meteran dari mereka tidur, begitu panas.
Beberapa dari mereka adalah penjual keliling, tukang ojek, kurir ,sales dan pegawai kecil lainnya. Mereka beristirahat sejenak seusai bertarung bersama terik mentari untuk mencari rejeki yg telah Allah hamparkan di bumi-Nya. Mereka merasa nyaman tiduran di teras masjid tanpa takut ada tangan2 jail yg mencuri barang-barang  mereka (( mungkin tidak ada benda berharga yang di bawa selain hape sejuta umat yang murah dan hanya berfungsi sebagai alat komunikasi  bukan untuk chatting, fesbukan, apalagi twitteran (padahal mereka juga bisa galau :p ) atau mungkin pencurinya juga ga tega kali liat mereka ))yang mau gue share dsini adalah raut wajah mereka begitu damai dan tenang saat tertidur, padahal banyak orang yang lebih kaya dari orang-orang ini  tidak dapat tidur sedamai mereka, mungkin karena pikiran orang kaya itu dibebani oleh harta yang mereka miliki. Walaupun setelah mereka terbangun dari tidur yang singkat ini, wajah-wajah ini akan kembali berpacu dengan waktu guna menjemput rejeki yang telah Allah hamparkan di bumi-Nya yang luas.
Banyak orang kaya merasa iri melihat orang-orang ini mampu memejamkan mata di tempat umum dengan santainya tanpa takut gadget terbaru atau dompet dengan brand internasional beserta isinya nyelonong ga permisi dari sakunya.Seorang dari mereka menghampiri gue dan berkata bahwa ia bersyukur dengan rejeki  yang Allah titipkan buat mereka setiap hari, yang penting bisa makan, kasih nafkah buat keluarga sederhana tercinta, tidur sejenak namun damai, dan yang terpenting sholatnya dapat di jaga dengan baik.
Gue Cuma bisa senyum dan mengiyakan kalimatnya tadi. Gue pun teringat beberapa bait kalimat yang berisi : “ tiap orang membutuhkan 3 hal yang akan membuat mereka bahagia di dunia ini, yaitu seseorang untuk di cintai, sesuatu untuk di harapkan, dan sesuatu untuk di lakukan ( pekerjaan)” .  imajinasi gue pun mencoba menghubungkan apa  yang terhampar di depan mata dan bait bijak ini.  Bahwa orang-orang ini telah memiliki seseorang atau beberapa orang yang mereka cintai dalam hidup ini yang membuat mereka gigih mencari rejeki, mereka memiliki pekerjaan yang mereka lakukan meski mungkin belum mampu mewujudkan semua ingin mereka, dan mereka mempunyai harapan bagi anak-anak mereka kelak agar hidupnya lebih baik dari para ayahnya meski di akhir hayat mereka tidak mampu memberi warisan berupa harta, hanya berupa wasiat untuk  tetap menjaga waktu-waktu sholat agar tidak selamanya miskin, sudah tidak kaya di dunia, maka harus kaya dan bahagia di akhirat.
Meskipun mimpi gue mungkin  jauh lebih besar di banding orang-orang ini, dan kerja keras yang harus gue lakuin mungkin lebih berat dari mereka, gue harus jadi orang kaya biar bisa memberi  dan membantu orang lain lebih banyak, tapi boleh jadi di hari akhir kelak, mereka akan lebih di permudah jalannya karena mereka tetep jaga waktu sholat mereka.  
-          Dari Umar r.a., katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:"Andaikata engkau sekalian itu suka bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakkal, niscayalah Dia akan memberikan rezeki padamu sekalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Pagi-pagi burung-burung berperut kosong dan sore-sore kembali dengan perut penuh berisi “. (Diriwayatkan oleh Imam Termidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan).
-           Barang siapa pada pagi hari aman dalam kelompoknya,sehat tubuhnya, memiliki pangan seharinya, maka dia seolah-olah memperoleh dunia dengan segala isinya. (HR:  Attirmidzi)
Sebuah pelajaran yang berharga banget buat  lo semua, terutama gue.

Ananda,  Johar, Jakarta , April 4th 2012

Selasa, 20 Maret 2012

" Orang Pintar "




Nabi Muhammad SAW dalam suatu kesempatan pernah bersabda, ''Siapa saja yang mendatangi `arraf (tukang tenung, dukun, peramal, dan lain-lain) dan menanyakan sesuatu kepadanya, tidak akan diterima shalatnya selama 40 hari.'' (HR Muslim).

Penggunaan sebutan 'orang pintar' bagi orang-orang yang dianggap bisa mengetahui kejadian yang telah lewat, bisa menunjukkan atau menemukan barang hilang, bisa memberitahukan hal yang gaib, meramal nasib seseorang, dan mengetahui apa yang ada dalam hati seseorang diduga merupakan terjemahan dari kata bahasa Arab, `arraf. 'Arraf merupakan turunan kata `arafa - ya`rifu yang secara kebahasaan berarti mengetahui sesuatu.

Ibn Taimiyah dalam kitabnya Al-Jami` al-Farid mengatakan, 'arraf sinonim dengan kahin dan munajjim, sehingga baginya tidak ada perbedaan arti di antara tiga sebutan itu. Dalam bahasa Indonesia, untuk ketiga kata itu sama-sama disebut 'orang pintar'. Dengan demikian, sebutan itu sudah tereduksi sedemikian rupa sehingga tidak lagi identik dengan kata yang berlawanan dengan orang bodoh.

Berkaitan dengan `arraf, kahin, dan munajjim itu, Rasulullah SAW dalam beberapa sabdanya, termasuk hadis di atas, mengingatkan umatnya agar tidak mempercayai apa yang dikatakan 'orang pintar', karena bisa menggiring seseorang kepada kekafiran.

Hadis-hadis terkait dengan hal itu, antara lain, ''Siapa saja yang mendatangi tukang tenung dan mempercayai ucapannya, sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW,'' (HR Abu Daud) dan ''Siapa saja yang mendatangi tukang tenung ('arraf dan kahin) dan mempercayai ucapannya, sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.'' (HR Ahmad, Masa'i, Tirmidzi, dan Ibn Majah).

Juga, ''Bukan dari golongan kami, orang yang menentukan nasib sial dan untung berdasarkan tanda-tanda benda, burung, dan lain-lain yang bertanya dan yang menyampaikannya, atau yang bertanya kepada tukang tenung atau yang mendukuninya atau yang menyihir atau yang meminta sihir untuknya. Siapa saja yang mendatangi tukang tenung (kahin) dan membenarkan ucapannya, sesungguhnya ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW.'' (HR Al-Bazzar).

Hadis-hadis tersebut secara tegas melarang umat Islam mendatangi seorang `arraf, kahin, dan munajjim dan menanyakan sesuatu serta mempercayai apa yang diucapkannya. Jika hal itu dilakukan, Nabi Muhammad SAW, berdasarkan hadis-hadis tadi, memastikan bahwa yang bersangkutan telah kafir (ingkar) terhadap apa yang diwahyukan Allah kepada beliau.

Karena itu, untuk membentengi diri dari perbuatan yang bisa membawa kepada kekafiran tersebut, hendaklah setiap kita menghayati janji kita di awal shalat, ''Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup, dan matiku semata hanya untuk Allah Tuhan alam semesta'' (QS 6: 162), ''Tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah'' (QS 6: 163). Wallahu a'lam.

Rabu, 07 Maret 2012

Belajar dari wajah



Menarik banget kalo kita terus menerus belajar tentang fenomena apa aj yang terjadi dalam hiruk-pikuk kehidupan ini. Baik saat di perjalanan menggunakan Busway, motor, mobil, taksi, bajaj ataupun berjalan kaki.  Tidak ada salahnya kalau kita buat semacam target. Misalnya : hari ini kita belajar tentang wajah. Saya sering berbagi ilmu yang didapat dengan seseorang dengan bertanya : “ sahabatku, pelajaran apa yang bisa lo share ke gua hari ini ?” Wajah? Ya, wajah. Karena masalah wajah bukan cuma masalah cantik atawa gantengnya, tapi yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut.

         Saat mau berangkat kekantor, sekolah, pasar atau kemanapun, tanamkan dalam hati : "Gue pengin  tau wajah yang paling menenteramkan hati itu kaya apa sii?  
Hmmm…Wajah yang paling menggelisahkan itu seperti bagaimana?" karena pastilah hari ini kita bakal ketemu dengan wajah orang per orang. Yupz, karena tiap orang pastil punya wajah. Wajah istri, suami, anak, tetangga, teman sekantor, orang di perjalanan, dan lain sebagainya.

         Subhanallaah, pasti kita bakal liat beraneka macam bentuk wajah. Dan, tiap wajah ternyata dampaknya berbeda2 buat kita. Ada yg bikin tentram, menyejukkan, ada yang menggelikan, bikin gelisah, dan ada juga yang nakutin. Lho, kok nakutin? why? Apa yang menakutkan karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

         Pernah suatu ketika berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram, subhanallaah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuuuk bangett! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung qolbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air sejuk menyegarkan di pagi hari (beneraannn!!! ).  Ada pula seorang ulama yang tubuhnya mungil, dan diberi karunia kelumpuhan sejak kecil. Namanya Syekh Ahmad Yassin, pemimpin spiritual gerakan Intifadah, Palestina. Ia tidak punya daya, duduknya saja di atas kursi roda. Hanya kepalanya saja yang bergerak. Tapi, saat menatap wajahnya, terpancar kesejukan yang luar biasa.(meski belom pernah ketemu lagsung).  Padahal, beliau jauh dari ketampanan wajah sebagaimana yang dianggap rupawan dalam versi manusia. Tapi, ternyata dibalik kelumpuhannya itu beliau memendam ketenteraman batin yang begitu dahsyat, tergambar saat kita memandang sejuknya pancaran rona wajahnya.

        Nah, friends, kalo today kita berhasil nemuin struktur wajah orang yg menenteramkan, maka cari tahulah kenapa dia bisa punya wajah yang menenteramkan seperti itu. Tentulah, benar-benar kita akan menaruh hormat. Betapa senyumannya yang tulus; pancaran wajahnya, nampak ingin sekali ia membahagiakan siapapun yang menatapnya. Dan sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap wajah lain dengan sifat yang berlawanan; (maaf, bukan bermaksud meremehkan) ada pula yang wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Begitulah, wajah-wajah dari saudara-saudara kita yang lain, yang belum mendapat ilmu; bengis dan ketus. Orang yg suka berbicara kasar juga termasuk orang yg tidak berilmu. Dan ini pun perlu kita pelajari.

        Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan, yang menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak ramah, tidak menenteramkan, dan yang tidak menyejukkan, karena cuman buang2 waktu aje.

        Ga ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah; raut seperti apakah yang ada di wajah kita ini? Memang ada diantara hamba-hamba Allah yang bibirnya di desain agak berat kebawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallaah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapapun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

        Buat yg merasa wajahnya manis atau punya lesung pipit, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, yaitu untuk lebih ikhlas lagi. Karena senyum di wajah, bukan hanya persoalan menyangkut ujung bibir saja, tapi yang utama adalah, ingin tidak kita membahagiakan orang lain? Ingin tidak kita membuat di sekitar kita tercahayai? Nabi Muhammad SAW, memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang bertemu dengan beliau sehingga orang itu merasa puas. Kenapa puas? Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW – bila ada orang yang menyapanya – menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama di hadapan beliau. Sesuai kadar kemampuannya.

        Walhasil, ketika Nabi SAW berbincang dengan siapapun, maka orang yang diajak berbincang ini senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang, cara bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang beliau contohkan. Dan itu ternyata berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Coba dehh, kalo kita ketemu nyokap n meski wajahnya ayu, tapi kalo kita diminta nunjukkin IPK yang jeblok..wahh, bakal nakutin ga?

      Orang karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah, tentu aja bukan buat ngeremehin. Tapi, mengambil tauladan wajah yang baik, menghindari yang tidak baiknya, dan cari kuncinya kenapa sampai seperti itu? Lalu praktekkan dalam perilaku kita sehari-hari. Selain itu belajarlah untuk mengutamakan orang lain!

      Mudah-mudahan kita dapat mengutamakan orang lain di hadapan kita, walaupun hanya beberapa menit, walaupun hanya beberapa detik, Subhanallaah.***

sumber : MQ File

Berapa lama dikubur ??



Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan Menyeberangi kawasan lampu merah Karet. Baju merahnya yang kebesaran melambai lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram ikatan sabuk celana ayahnya.

Yani dan ayahnya memasuki wilayah pemakaman umum Karet, berputar sejenak ke kanan dan kemudian duduk di atas seonggok nisan.

"Hj Rajawali binti Muhammad 19-10-1905:20-01-1965"

"Nak, ini kubur nenekmu mari kita berdo'a untuk nenekmu"

Yani melihat wajah ayahnya, lalu menirukan tangan ayahnya yang mengangkat ke atas dan ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Ia mendengarkan ayahnya berdo'a untuk neneknya.

"Ayah, nenek waktu meninggal umur 50 tahun ya yah."

Ayahnya mengangguk sembari tersenyum sembari memandang pusara Ibu-nya.

"Hmm, berarti nenek sudah meninggal 36 tahun ya yah..." kata Yani berlagak sambil matanya menerawang dan jarinya berhitung.

"Ya, nenekmu sudah di dalam kubur 36 tahun. "

Yani memutar kepalanya, memandang sekeliling, banyak kuburan di sana. Di samping kuburan neneknya ada kuburan tua berlumut "Muhammad Zaini : 19-02-1882 : 30-01-1910"

"Hmm.. kalau yang itu sudah meninggal 91 tahun yang lalu ya yah" jarinya menunjuk nisan disamping kubur neneknya.

Sekali lagi ayahnya mengangguk. Tangannya terangkat mengelus kepala anak satu-satunya.

"Memangnya kenapa ndhuk?" kata sang ayah menatap teduh mata anaknya.

"Hmmm, ayah khan semalam bilang, bahwa kalau kita mati, lalu di kubur dan kita banyak dosanya, kita akan disiksa di neraka." Kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya. "Iya kan yah?"

Ayahnya tersenyum, "Lalu?"

"Iya, kalau nenek banyak dosanya, berarti nenek sudah disiksa 36 tahun dong yah di kubur? Kalau nenek banyak pahalanya, berarti sudah 36 tahun nenek senang di kubur, ya nggak yah?"

Mata Yani berbinar karena bisa menjelaskan kepada ayahnya pendapatnya. Ayahnya tersenyum, namun sekilas tampak keningnya berkerut, tampaknya cemas.

"Iya nak, kamu pintar," kata ayahnya pendek.

Pulang dari Pemakaman, ayah Yani tampak gelisah di atas sajadahnya, memikirkan apa yang dikatakan anaknya... 36 tahun... hingga sekarang... kalau kiamat datang 100 tahun lagi... 136 tahun disiksa... atau bahagia di kubur... Lalu ia menunduk... meneteskan air mata... Kalau ia meninggal... lalu banyak dosanya... lalu kiamat masih 1000 tahun lagi berarti ia akan disiksa 1000 tahun? Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'un ... air matanya semakin banyak menetes... Sanggupkah ia selama itu disiksa? Iya kalau kiamat 1000 tahun ke depan... kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itu ia akan disiksa di kubur .. lalu setelah dikubur? Bukankah akan lebih parah lagi? Tahankah? Padahal melihat adegan preman dipukuli massa ditelevisi kemarin ia sudah tak tahan?

Ya Allah... ia semakin menunduk... tangannya terangkat keatas... bahunya naik turun tak teratur.... air matanya semakin membanjiri jenggotnya.

Allahumma as aluka khusnul khootimah berulang kali di bacanya doa itu hingga suaranya serak... dan ia berhenti sejenak ketika terdengar batuk Yani.

Dihampirinya Yani yang tertidur di atas dipan bambu... dibetulkannya selimutnya. Yani terus tertidur ...tanpa tahu, betapa sang bapak sangat berterima kasih padanya karena telah menyadarkannya, arti Sebuah kehidupan, dan apa yang akan datang di depannya.

From milis

Jumat, 17 Februari 2012

Pohon Azzam


Pohon azzam mengeras, sekilas layaknya padi yang siap di renggut dari kedamaiannya diatas tanah lembut yang merengkuhnya beberapa bulan belakangan.lingkar hikmah mulai merapat membentuk sudut tak simetris dan berujung runcing yang sedikit membahayakan nuri yang ingin hinggap sejenak disana.kerindangan pohon azzam itu mulai berkurang, tak dapat lagi sepenuhnya menahan terpaan sinar mentari yang sebetulnya menyehatkan pucuk-pucuk daun muda yang mulai menyembul dengan malu. Batang ketegaran yang dulu kokoh sedikit terluka oleh terpaan badai berkepanjangan,terlihat dari goresan-goresan indah yang terbentuk meski kadang datang tanpa di sertai hujan sebagai tamu pertama. terlihat koyak di beberapa tempat, meski tak mampu menghilangkan kekekaran yang tersembul dari urat-uratnya yang tegas.
 
Pohon azzam itu mulai menghasilkan buahnya yang terlihat ranum sedari kecilnya, pohon azzam yang menjulang ke langit itu agak merunduk kini, entah apa sebab. Mungkin banyak peraturan-Nya yang terlanggar saat penanaman bibitnya, atau sedikit tak teraturnya air yang tercurah dari langit bagi sang pohon.
pohon yang lebih tua dan terletak tidak jauh dari pohon azzam itu pernah berbisik " semakin kita menjulang, semakin besar daya kita kerahkan saat menahan badai, banyak-banyaklah berserah pada-Nya"

hmm...
Sepertinya pohon azzam ini harus lebih sering di sirami hujan do'a panjang yang meliuk ke langit dan merajuknya untuk mengalirkan sederas air yang sejuk tuk menyegarkan nadi-nadi yang sempat kaku setelah seharian menyerap panas mentari yang sering tak bersahabat.
Awan kelam diatas sana kadang menawarkan seguyur penawar dahaga sesaat, namun bala yang berkepanjangan jika sedang murka, ia bisa menghalangi pancar mentari hingga sekian lama, membuat daun-daun muda melayu dan tak bisa memanfaatkan klorofilnya. 

Teman, pohon azzam itu semakin belajar banyak dari tiap detik yang di laluinya di alam liar ini, belajar mengasihi burung-burung kecil yang hinggap di kerindangan daunnya, belajar bersabar dalam tiap terpaan panas mentari yang semakin hangat di kulitnya, belajar mengikuti alir angin semilir yang menerpa dengan lembut maupun kasar,belajar arti kata setia menaungi ratusan semut hitam dan semut merah yang sering mengadakan pesta di balik akarnya yang kokoh. Pohon azzam yang sejak tertanam itu berseri kini semakin memancarkan kemilau manfaatnya bagi yang lain.

hmm......
semoga tetap begitu

ananda, Februar 17th  2012